Masihkah Anda Berminat Bisnis Ritel Setelah Membaca Berita Ini?

Written by Anto

Masih hangat berita tentang banyaknya departement store yang akhirnya menutup gerainya. Terlebih di Jakarta, satu per satu departement store yang merupakan perusahaan ritel raksasa berguguran menutup gerainya. Sebagai pengingat saja, awal tahun 2019 Centro Departement Store yang besar dan jadi primadona di Plaza Semanggi dan sudah berdiri kurang lebih selama 15 tahun akhirnya menutup gerainya karena jumlah pengunjung yang terus menurun. Masih di Plaza Semanggi, Gerai Nevada yang merupakan perusahaan ritel di bawah naungan Matahari Departement Store saat ini juga menyusul Centro untuk tidak lagi beroperasi di Plaza Semanggi.

Departement store yang sebagian besarnya menjual barang-barang fashion terus berguguran sejak beberapa tahun yang lalu dan hingga kini masih terus berlanjut. Banyak hal yang membuat eksistensi departement store mulai meredup antara lain: pola belanja yang berubah, jual beli daring, hingga persaingan bisnis ritel yang ketat.

Masalah-masalah tersebut tentu saja pada akhirnya bisa mempengaruhi penjualan dari departement store. Contohnya PT Matahari Departement Store Tbk yang dalam 5 tahun terakhir biasanya mengalami pertumbuhan omset sebesar 9%, pada tahun 2018 hanya mengalami kenaikan sangat tipis yaitu sekitar 2% di banding dengan pendapatan pada tahun 2017. Selain Matahari Departement Store, hal serupa juga dirasakan oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk yang justru mengalami penurunan sebesar 2% pada tahun 2018 jika dibanding dengan pendapatan pada tahun 2017 yaitu dari 2,71 triliun di 2018 menjadi 2,65% pada tahun 2018.

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk justru mengalami hal sebaliknya jika dibandingkan dengan kedua bisnis ritel raksasa yang disebutkan di atas.  Penjualan Ramayana untuk segmen pakaian dan aksesoris mengalami kenaikan 10% menjadi Rp. 4,13 triliun pada tahun 2018 yang lalu.

Apakah Bisnis Ritel Masih Prospektif di Tahun Ini?

Jika melihat hasil penjualan kuartal pertama tahun 2019, PT Matahari Departement Store Tbk yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia ini masih mengalami penurunan 2% jika dibandingkan kuartal pertama tahun lalu. Hal ini tentu saja juga turut mempengaruhi turunnya nilai laba bersih. Pada kuartal pertama tahun 2019 PT Matahari Departement Store membukukan laba bersih senilai Rp. 143 miliar. Angka ini adalah cerminan turun 42% jika dibandingkan angka pada periode yang sama tahun lalu yaitu sebesar Rp. 247 miliar.

Dikutip dari tirto.id, "Meski penjualan melemah, kami melihat ada momentum positif dari inisiatif merchandise baru kami, khususnya di segmen youth," kata CEO dan Wakil Presiden Direktur Matahari Richard Gibson dalam siaran persnya.

Kepala Riset PT Koneksi Kapital Indonesia Alfred Nainggolan menilai pendapatan emiten ritel, khususnya dari department store tahun ini, masih akan tertekan. Kondisinya kurang lebih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. "Namun, saya masih yakin dengan prospek ritel ini, terutama jika barang yang dijual sifatnya adalah kebutuhan pokok. Bagaimanapun, demand untuk sandang itu masih besar," tuturnya kepada Tirto.

Baca selengkapnya di artikel "Bisnis Department Store di 2019: Masih Diliputi Awan Mendung?", https://tirto.id/edRq

Ketahui Pertumbuhan Bisnis Anda

Jika Anda saat ini sudah terlanjur sedang menjalani bisnis ritel, sudahkah Anda mengetahui dengan pasti bagaimana angka pertumbuhan bisnis Anda? Atau Anda merasa cukup nyaman hanya dengan melihat ramainya pengunjung yang masih berdatangan ke toko Anda dan besarnya omset yang masuk setiap hari? pernahkah Anda mengukur dan membandingkan dari periode ke periode pertumbuhan bisnis Anda seperti yang dilakukan oleh ritel-ritel raksasa di atas? 

Bagaimanapun angka pertumbuhan bisnis adalah sangat penting bagi pemilik usaha untuk antisipasi dan melakukan tindakan jika ditemukan hal yang bisa merugikan perusahaan. Sebagai contoh adalah tindakan yang dilakukan oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Meskipun penjualan menurun, bisnis department store Mitra Adiperkasa pada 2018 sebenarnya bisa dikatakan cukup baik. Pasalnya, pada saat bersamaan, MAPI berhasil menekan biaya yang timbul dari bisnis department store itu. Alhasil, hasil segmen MAPI kala itu melesat lima kali lipat dari Rp33 miliar menjadi Rp202 miliar. Sebagai catatan, hasil segmen adalah penjualan bersih dikurangi beban pokok penjualan dan beban langsung; beban penjualan; serta beban umum; dan beban administrasi.

Rekomendasi Sistem Pengukur Pertumbuhan Bisnis Terbaik Untuk Anda

Harga sistem pembukuan keuangan terintegrasi memang tergolong cukup mahal. Bagi PT Mitra Adiperkasa Tbk atau PT Matahari Departement Store Tbk, mengeluarkan dana 2 - 5 miliar rupiah untuk membeli software akuntansi terintegrasi memang tergolong mudah, namun bagaiamana bagi Anda para pelaku UKM yang bahkan modal usahanya saja tidak sampai 1 M. Jangankan untuk membeli sistem, untuk membeli barang dagangan saja Anda perlu bernegosiasi dengan termin pembayaran yang panjang. Namun saat ini telah tersedia sistem akuntansi terintegrasi yang telah menjadi andalan UKM di Indonesia. Sistem ini bisa membandingkan pertumbuhan bisnis UKM dari periode ke periode dan sudah lengkap dengan fitur umum yang sangat diperlukan oleh UKM. Diantaranya adalah bisa mengetahui laporan rincian piutang, hutang, laba rugi, neraca, sampai ke laporan PPN dan PPH 23. Untuk fitur tersebut, para UKM tidak perlu membayar sampai Rp. 2 Miliar namun cukup sekitar Rp 200 ribuan. Bahkan sebelum membeli sistem ini Anda dibebaskan untuk menggunakannya secara cuma-cuma selama 1 bulan. Untuk infomasi selengkapnya mengenai sistem terintegrasi andalan UKM ini anda bisa baca selengkapnya di website resminya di http://accurateonline.id

 

Anto
Digital Marketer
Pemilik Peternakan Kampung Kelinci
Pemegang Saham PT Kalbe Farma Tbk
Pemegang Saham PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk
Pemegang Saham PT Aneka Tambang Tbk
Pemegang Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

About the author

Anto

Digital Marketer
Pemilik Peternakan Kampung Kelinci
Pemegang Saham PT Kalbe Farma Tbk
Pemegang Saham PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk
Pemegang Saham PT Aneka Tambang Tbk
Pemegang Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

Leave a Comment