PPN Keluaran dan PPN Masukan, Bagaimana Cara Menginputnya

Dalam dunia bisnis, khususnya untuk Anda yang berstatus sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), tentu sudah tidak asing dengan istilah Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pajak ini merupakan pajak yang dikenakan atas transaksi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang berada di wilayah kepabeanan Indonesia. Karena terdapat dua pihak dalam transaksi antara penjual dan pembeli, maka terdapat dua jenis perhitungan PPN, yakni PPN Masukan dan PPN Keluaran.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dikenakan memang hanya satu kali pada setiap transaksi. Namun kedua belah pihak harus memiliki dokumen resmi dan sah untuk mencatat PPN yang sudah menjadi kewajibannya ini. Tentu saja, berkas faktur pajak yang digunakan juga berbeda, yakni Faktur Pajak Masukan dan Faktur Pajak Keluaran.

PPN Masukan digunakan oleh PKP Pembeli untuk mencatatkan PPN yang tertanggung dalam pembelian yang dilakukannya. PPN Masukan merupakan pajak yang dikenakan ketika PKP melakukan pembelian atas Barang Kena Pajak atau Jasa kena Pajak. Perhitungan ini nantinya dapat digunakan untuk melakukan klaim, bilamana pajak masukan lebih besar daripada pajak keluaran.

PPN Keluaran merupakan pajak yang dikenakan ketika PKP melakukan penjualan terhadap Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. Hal ini digunakan sebagai pelengkap transaksi yang dilakukan, sebagaimana yang telah tercantum dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai yang dimiliki oleh Indonesia.

Cara Menginput PPN Masukan dan PPN Keluaran

Menginput PPN Masukan terjadi pada saat PKP melakukan pembelian atas barang kena pajak ataupun Jasa kena pajak. Misalnya:

Ibu Ira seorang pengusaha dengan status PKP melakukan pembelian 5 unit TV Samsung pada periode pajak berjalan dengan harga satuan Rp.2.000.000/unit. Maka perhitungan PPN Masukannya adalah 10% dari  5 x 2.000.000 = 10.000.000. Jadi PPN masukan yang di debet adalah Rp. 1.000.000 Jurnal yang terbentuk ketika Pembelian sebagai berikut :

Persediaan Barang    10.000.000

PPN Masukan              1.000.000

Hutang Usaha            11.000.000

Menginput Ppn keluaran yang terjadi  atas penjualan  barang kena pajak atau Jasa kena pajak, contohnya sebagai berikut:

Ibu Ira sebagai seorang pengusaha dengan status PKP melakukan penjualan 5 unit TV Samsung pada periode pajak berjalan dengan harga satuan Rp. 2.700.000/unit. Maka perhitunganPPN Keluaran adalah 10% dari 5 x 2.700.000 = Rp. 13.500.000. Jadi PPN Keluaran yang di kreditkan adalah Rp. 1.350.000 Jurnal yang terbentuk ketika Penjualan sebagai berikut :

Piutang Usaha         14.850.000

PPN Keluaran                1.350.000

Penjualan                       13.500.000     

HPP                        10.000.000

Persediaan                     10.000.000   

Perhitungan PPN Masukan dilakukan oleh PKP ketika PKP berada di posisi sebagai pembeli Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP). Sedangkan, PPN Keluaran dilakukan penghitungannya oleh PKP ketika PKP dalam posisi sebagai penjual Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP). Kedua penghitungan ini akan sama-sama dilaporkan pada Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk diperiksa dan dicocokkan nilainya.

Merekap dan Mencetak Faktur Pajak

Untuk merekap transaksi PPN Keluaran dan PPN Masukan beserta mencetak Faktur Pajak dapat masuk kedalam Aplikasi E-Faktur berikut langkah-langkah yang harus dilakukan diantaranya:

  • Input data No Seri Faktur Pajak pada menu untuk membuat Pajak Keluaran dengan cara klik ‘Referensi’, lalu ‘Referensi Nomor Faktur’ lalu ‘Rekam Range Faktur Pajak’.
  • Masuk ke menu ‘Faktur’, lalu ‘Pajak Keluaran’.
  • Untuk Pajak Masukan, masuk menu ‘Faktur’, lalu ‘Pajak Masukan’.
  • Untuk melakukan input data pajak (keluaran maupun masukan) satu per satu dan membuat faktur pajak elektronik, masuk ke menu ‘Administrasi Faktur’, lalu ‘Rekam Faktur’. Atau dapat mengimport transaksi melalui file csv.
  • Klik ‘Preview’ untuk melihat faktur yang dibuat, klik ‘Ubah’ jika perlu dilakukan perbaikan.
  • Periksa kolom status ‘Approval’, jika statusnya ditolak atau ‘Reject’ artinya pengunggahan faktur pajak gagal. Periksa kolom keterangan dan perbaiki menurut saran yang diberikan.

Laporan Pajak

Laporan pajak yang menggunakan Faktur Pajak Keluaran disampaikan PKP Penjual pada DJP setelah transaksi dilakukan. Setelah itu, Faktur Pajak Masukan dibuat oleh PKP Pembeli untuk diverifikasi nilainya dengan dibandingkan pada Faktur Pajak Keluaran. Bila terdapat selisih antara jumlah total kedua faktur pajak ini, akan diselesaikan dengan apa yang disebut kredit pajak.

Kredit Pajak sendiri berarti penyelesaian selisih Pajak Pertambahan Nilai yang terjadi antara kedua faktur pajak yang dilaporkan. Hal ini bukanlah pelanggaran hukum perpajakan, namun sebuah kewajaran. Nantinya, selisih ini dapat diselesaikan dengan pembayaran kekurangan pajak (jika pajak masukan lebih kecil) atau klaim pajak atau kompensasi pajak (jika pajak masukan lebih besar).

Untuk memudahkan penginputan transaksi penjualan kena pajak ataupun pembelian kena pajak terkadang ada baiknya menggunakan Software Akuntansi yang dapat terkoneksi dengan Aplikasi pajak E-Faktur agar dapat dengan mudah melakukan export file csv yang dapat diimport ke Aplikasi E-Faktur

Yopi
Konsultan Bisnis
Investor Perusahaan Terbuka
085219268059

About the author

Yopi

Konsultan Bisnis
Investor Perusahaan Terbuka
085219268059

Leave a Comment